Pages

Tuesday, June 19, 2012

MORAL PERANG DALAM PERADABAN ISLAM

Pernahkah Anda mendengar berita Perang Salib yang dilancarkan orang-orang Barat terhadap kaum Muslimin pada abad-abad pertengahan? Telah Anda ketahui bagaimana kita menepati janji sedang mereka berkhianat. Kita memaafkan mereka tapi mereka membalas dendam. Kita melindungi darah mereka tapi mereka menumpahkan darah kita sambil menyanyi riang dan bergembira. Ketiak tentara Salib dalam serangan kedua tiba di Maarratun Nu`man, mereka mengepung kota itu sehingga penduduknya terpaksa menyerah setelah meminta janji tegas dari para pemimpin serangan itu agar mereka memelihara jiwa, harta dan kehormatannya. Namun begitu mereka memasuki kota itu, ternyata mereka melakukan perbuatan-perbuatan sadis yang membuat anak-anak kecil jadi beruban. Sebagian sejarawan Perancis ikut serta dalam serangan itu memperkirakan jumlah mereka yang tewas (laki-laki, wanita dan anak-anak) sekitar 100.000 orang! Setelah berhasil merobohkan kota tersebut tentara Salib melanjutkan serangannya ke Baitul Maqdis dan mengepung ketat penduduknya. Penduduk kota itu melihat, mereka pasti kalah. Karena itulah mereka meminta perlindungan atas jiwa dan hartanya kepada pangliam Tancard memberikan benderanya kepada mereka yang kemudian mereka acungkan di atas Masjid Aqsa. Mereka pun berlindung di sana dengan aman. Setelah itu tentara Salib memasuki kota itu. Sungguh, betapa mengerikan pembantaian itu dan betapa keji kejahatan yang dilakukan mereka.



Penduduk Al Quds berlindung ke Masjid Aqsha yang diatasnya dikibarkan bendera keamanan pemberianpangliam Tancard. Ketiak masjid itu sudah penuh dengan orang-orang, baik orang tua, wanita dan anak- anak, mereka bantai habis-habisan seperti menjagal kambing. Darah-darah muncrat mengalir di tempat ibadah itu hingga setinggi lutut penunggang kuda. Kota menjadi bersih oleh penyembelihan penghuninya secara tuntas. Jalan-jalan penuh dengan kepala-kepala yang hancur, laki-laki yang putus dan tubuh-tubuh yang rusak. Para sejarawan kita menyebutkan jumlah mereka yang dibantai di Masjid Aqsa sebanyak 70.000 orang. Diantara adalah sekelompok besar imam, ahli ibadah dan orang-orang zuhud. Di samping itu juga terdapat banyak kaum wanita dan anak-anak. Para sejarawan Perancis sendiri tidak mengingkari pembantaian mengerikan itu, bahkan mereka kebanyakan membicarakannya dengan bangga!

Setelah berselang 90 tahun sejak pembantaian itu, Salahuddin menaklukkan Baitul Maqdis. Lalu, apa yang ia perbuat? Apakah menuntut balas atas kekejaman tentara Salib tersebut? Sama sekali tidak! Ia sama sekali tidak menaruh dendam atas peristiwa tragis pembantaian tersebut. Ia malah melindungi jiwa dan harta lebih dari 100.000 orang Barat. Ia memberi ijin ke luar kepada mereka dengan tembusan sejumlah kecil harta di bayarkan oleh mereka yang mampu dan mereka diberi tempo untuk ke luar selama 40 hari. Salahuddin mengeluarkan dari situ 84.000 orang untuk bergabung dengan saudara-saudara mereka di Akka dan kota lainnya. Kemudian dia juga membebaskan sejumlah besar orang-orang miskin tanpa tebusan. Saudara Salahuddin, Al Malikul Adil malah membayarkan tebusan untuk 2.000 orang laki-laki diantara mereka. Salahuddin memperlakukan kaum wanita dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh raja paling maju yang memperoleh kemenangan di jaman modern ini. Ketika Kepala Uskup Perancis ingin ke luar, Salahuddin mengijinkannya ke luar dengan membawa seluruh harta gereja, Masjid Aqsa, Masjid Shakhrakh, dan gereja Qiyamah yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah semata. Sebagian pembantu Salahuddin mengusulkan agar ia mengambil harta yang tak terhitung jumlahnya itu. Namun Salahuddin berkata, Aku tidak mau berkhianat! Ia hanya mengambil dari Kepala Uskup itu sejumlah harta seperti yang diambilnya setiap orang yang ke luar.

Ada peristiwa yang menambah kecerlangan tindakan kemanusiaan yang diperbuat Salahuddin. Ketika orang- orang Barat hendak meninggalkan Al Quds untuk bergabung dengan saudara-saudaranya, Salahuddin mengirimkan pengawal-pengawal untuk mengantar dan melindungi mereka sampai ke tempat-tempat tentara Salib di Tyr dan Shaida dengan aman, meskipun pada waktu itu kaum muslimin masih dalam suasana perang dengan mereka! Dapatkah Anda mengendalikan urat syaraf Anda mendengar hal semacam ini? Simaklah kisah lainnya di bawah ini.

Banyak kaum wanita yang membayar jizyah berkumpul dan pergi menghadap Sultan (Salahuddin). Mereka memohon keringanan sambil mengatakan bahwa mereka adalah isteri-istri, ibu-ibu atau puteri-puteri dari sebagian prajurit yang ditawan atau terbunuh. Mereka tidak lagi mempunyai keluarga dan tempat tinggal. Ketika Sultan melihat nereka menangis maka ia pun ikut menangis karena terharu dan kasihan. Sultan lalu memerintahkan pasukannya umtuk mencari tawanan yang menjadi suami-suami mereka. Kemudian ia membebaskan para tawanan yang ditemukan dan mengembalikannya kepada para isterinya. Adapun wanita-wanita yang kehilangan wali-wali mereka, Sultan memberinya harta yang banyak yang membuat mereka selalu memujinya dimanapun mereka berada. Sultan juga mengijinkan tawanan-tawanan yang di bebaskan untuk pergi bersama anak-istrinya menuju saudara- saudaran mereka yang berlindung di Tyr dan Akka. Padahal sementara itu, kuam fakir miskin Barat yang meninggalkan Al Quds setelah ditaklukkan dan pergi menuju Anthakia ternyata ditolak oleh penguasanya yang Kristen sehingga kaum fakir Barat itu tak tentu arah sampai kaum muslimin menampung mereka. Sebagian dari mereka pergi ke Tripoli yang berada di bawah kekuasaan Latin, namun mereka ditolak, di usir bahkan dirampas barang-barangnya (yang merupakan pemberian kaum muslimin).

Kisah Salahuddin bersama orang-orang Barat dalam Perang Salib ini nyaris menyerupai dongeng, Andaikata bukan orang-orang Barat sendiri yang tak henti- hentinya mengagumi keluhuran pahlawan abadi dan ketinggian akhlaknya ini, niscaya terbuka lebar peluang untuk menuduh para sejarawan kita berlebih-lebihan. Orang-orang Barat sendiri menuturkan, ketika Salahuddin mendengar berita sekitar Richard si Hati Singa (panglima terbesar dan terberani dalam ekspedisi Salib), ia mengirimkan dokter pribadinya dengan membawa obat dan buah-buahan yang tak mungkin didapatkan panglima Salib itu. Padahal ini terjadi ketikaperang d antara kedua pasukan itu masih berkecamuk dan tengah bertarung sengit. Orang-orang Barat jugalah yang menuturkan kisah tentang seorang wanita Barat yang merebahkan dirinya di kemah Sultan Salahuddin sambil menangis. Wanita Barat itu meratap dan mengadu kepadanya bahwa dua orang prajuritnya menculik anaknya. Sultan turut menangis dan segera mengirimkan orang-orangnya untuk mencari anak itu hingga ditemukan. Setelah anaknya diserahkan, wanita itu dipulangkan ke markasnya oleh Salahuddin dengan di kawal pasukannya dalam keadaan aman dan tenang. Melihat fakta keluhuran pahlawan peradaban kita, bagaimana pendapat orang setelah ini?

Ketika Sultan Muhammad Kedua menaklukkan Konstantinopel, ia memasukki gereja Aya Sophia yang juga menjadi tempat berlindung tokoh-tokoh gereja. Sultan menghadapi mereka dengan baik dan menegaskan perlindungannya kepada mereka. Kemudian Sultan meminta mereka yang ketakutan itu agar pulang ke rumah mereka dengan aman. Sultan juga mengatur urusan-urusan orang-orang Kristen, membiarkan hak mereka mengikuti gereja-gereja khususnya, membiarkan undang-undang keagamaan mereka dan tradisi-tradisi yang berkaitan dengan hal- ihwal pribadi mereka. Sultan juga membiarkan para pendeta memilih sendiri kepala uskupnya (kemudian mereka memilih Genadius), dan Sultan juga merayakannya dengan semangat kebesaran yang pernah dianut pada masa kaisar-kaisar Byzantium. Sultan berkata kepada kepala uskup baru itu, Jadilah Anda kepala uskup yang bersahabat dengan saya dalam setiap waktu dan keadaan. Nikmatilah semua hak dan konsesiyang pernah dimiliki oleh pendahulu-pendahulu anda! Kemudian Sultan menghadiakan kepadanya seekor kuda yang bagus dan memberinya pula pengawal- pengawal khusus dari inkisyariah (pengawal khusus Sultan). Juga menyertakan bersamanya pejabat-pejabat negara menuju tempat yang di sediakan bginya. Sultan lalu menegaskan pengakuannya terhadap undang- undang gereja ortodoks dan meletakkannya di bawah pengayomannya. Semua peninggalan orang-orang suci yang dirampas pada saat penaklukkan di kumpulkan, dibeli dan diserahkan kepada gereja-gereja dan biara- biara.

Sultan Muhammad Al Fatih melakukan semua itu tanpa persyaratan yang harus dipenuhi antara ia dengan orang-orang Kristen di Konstantinopel ketiak penaklukan. Sultan hanya mendermakan perlindungan dan pengayoman ini. Ini merupakan suatu hal yang membuat mereka di kemudian hari merasakan bahwa berada dalam pengayoman negara Islam yang baru mereka lebih banyak memperoleh keamanan, kedamaian dan kebebasan beragama daripada di bawah kekuasaan pemerintahan Byzanitum

Para pemimpin dinasti Usmani memperlakukan secara baik rakyat-rakyat Kristen di negara-negara tetangga yang ditaklukkanya (seperti Yunani, Bulgaria, dan lain- lain). Ini merupakan suatu perlakuan yang belum pernah dijumpai bandingannya di seluruh Eropa saat itu. Bahkan, para pengikut Calvin di Hungaria dan Transilvania dan para pengikut mazhab tauhid dari kalangan orang-orang Kristen yang berada di Transilvania seringkali memilih tunduk kepada orang-orang Turki daripada jatuh ke dalam kekuasaan keluarga Habsburg yang fanatik. Warga Protestan di Sicillia pun memandang Turki dengan pandangan simpati. Mereka berharap penuh kegembiraan dapat membeli kebebasan agama dengan ketundukan terhadap pemerintahan Islam. Kaum muslimin memperlakukan orang-orang Kristen yang berada di bawah kekuasaannya dengan toleransi keagamaan yang mulia padahal di negeri-negeri Eropa mereka selalu menderita karena tekanan-tekanan para penguasa mereka dan karena fanatisme antara kelompok- kelompok keagamaan yang sering mengalirkan darah serta menyebarkan fitnah dan ketakutan.

Simaklah apa yang dikatakan Kepala Uskup Anthakia Makarius pada abad ke-17 tentang kekejian-kekejian yang ditimpakan kaum Katholik Polandia terhadap saudara-saudara mereka yang ortodoks. Ia berkata, Sesungguh, kami semua mencucurkan air mata dengan deras untuk ribuan syuhada yang terbunuh dalam empat puluh atau lima puluh tahun ini di tangan orang- orang Zindiq musuh-musuh agama kami yang celaka itu. Jumlah mereka yang terbunuh sekitar 70.000 orang. Wahai penghianat, wahai pendurhaka kotor, wahai hati yang membantu, apa kesalahan para biarawati dan kaum wanita?! Apa dosa gadis-gadis, bayi-bayi dan anak-anak kecil sehingga kalian membunuhnya? Saya menyebut mereka orang-orang Polandia terkutuk karena mereka lebih bejat dan brutal dari penyembah- penyembah berhala yang perusak. Mereka terlalu kejam memperlakukan orang-orang Kristen. Mereka mengira dengan begitu mereka bisa menghapus nama ortodoks. Semoga Allah mengekalkan negera Turki sepanjangmasa. Mereka memungut jizyah yang mereka tetapkan tetapi tidak mencampuri urusan agama-agama, baik kepada rakyatnya yang Kristen, Yahudi atau Samiri. Orang-orang Polandia terkutuk itu tidak puas hanya memungut pajak dari saudara-saudara Al Masih meskipun mereka sudah mengabdi dengan senang hati. Bahkan mereka diletakkan di bawah kekuasaan orang- orang Yahudi yang zalim. Padahal orang-orang Yahudi itu adalah musuh-musuh Al Masih dan mereka tidak diijinkan melakukan apapun, meskipun hanya membangun gereja dan tidak boleh ada pendeta pun dari mereka yang mengajarkan rahasia-rahasia agamanya.

Ketika membicarakan penghormatan Sultan Muhammad al Fatih terhadap gereja Aya Sophia dan hak-hak orang Kristen di Konstantinopel, mau tak mau saya harus menuturkan apa yang diperbuat tentara Salib (ketika datang dari Eropa) yang kemudian menguasai Konstantinopel pada tahun 1204. Simaklah apa yang dikatakan paus Incent Ketiga dalam menggambarkan perbuatan mereka terhadapa saudara-saudara mereka yang ortodoks. Paus Incet berkata, Para pengikut Al Masih dan penolong agamanya yang seharusnya menghunus pedang melawan musuh terbesar agama Kristen (yakni Islam), malah menumpahkan darah haram Kristen dan berenang dalam lautannya. Mereka tidak menghormati agama, umur dan kaum wanita sehingga mereka berani berbuat zina di siang bolong. Biarawati-biarawati, gadis-gadis dan ibu-ibu diserahkan kepada kebuasan tentara-tentara. Mereka tidak puas hanya dengan merampas harta-benda kaisar dan barang-barang rakyat tapi mereka juga telah menjamahtanah dan kekayaan gereja-gereja. Tidak di situ saja. Mereka juga menodai kesucian gereja, menjarah benda- benda, salib-salib dan peninggalan-peninggalannya, di samping peninggalan-peninggalan orang-orang suci.

Simaklah pula apa yang dikatakan sejarawan Charles Diehl. Katanya, Tentara-tentara yang mabuk memasukki gereja Santa Sophia. Mereka merusak kitab- kitab suci dan menginjak-injak lukisan para martir (syuhada). Sementara di kursi kepala Uskup duduk seorang pelacur sambil menyanyi dengan suara keras. Karya-karya seni di kota itu dimusnahkan dan patung- patung diluluhkan untuk ditempa menjadi uang. Salah seorang pendeta yang menyaksikan peristiwa menyedihkan ini mengaku dan berkata, Pengikut- pengikut Muhammad tidak akan memperlakukan ini seperti diperbuat oleh tentara-tentara Al Masih. Memang tokoh-tokoh peradaban kita melakukan hal semacam itu ketika menaklukkan kota tersebut. Hal ini dapat Anda lihat dari tindakan Sultan Muhammad al Fatih. Tidak ada di antara mereka yang hanyut dalam fanatisme keagamaan yang buruk yang tampak pada kaum Kattholik terhadap saudara-saudara mereka yang ortodoks.

Saya tidak ingin berpanjang lebar dalam membandingkan antara moral, perlakuan baik, kasih- sayang dan tenggang rasa pera penakluk muslim terhadap pihak yang dikalahkan dengan apa yang diperbuat orang-orang Spanyol ketika menguasai Granada (kerajaan Islam terakhir di Andalus). Ketika meguasai Granada, pihak Spanyol memberikan lebih dari 60 janji kepada kaum muslimin. Mereka berjanjiakan menghormati agama, masjid-masjid, harta benda dan kehormatan kita tetapi ternyata tak sebuah janji pun ditepati, tak sebuah jaminan pun yang dipenuhi. Mereka bahkan tak segan-segan menumpahkan darah dan menjarah harta kaum muslimin habis-habisan. Begitu lewat 32 tahun sejak jatuhnya Granada, Paus mengeluarkan perintahnya (tahun 1524) agar seluruh masjid di Spanyol diubah menjadi gereja-gereja, dan tak lebih dari empat tahun kemudian, tak seorang muslim pun yang masih tersisa di Spanyol. Inilah cara mereka memenuhi janji. Sama sekali bertolak belakang dengan cara kita. Yang lebih mengherankan lagi, kebengisan dan pelanggaran janji mereka juga terjadi antara sebagian mereka terhadap sebagian lainnya, yang tidak lebih ringan dibanding sikap mereka terhadap kita. Setiap negeri yang berhasil ditaklukkannya, baik di Barat maupun Timur, mereka amat bengis, kejam dan sadis. Mereka berlaku sangat kejam terhadap setiap orang lemah yang dikalahkannya, baik muslim maupun orang Nasrani sendiri, dan justru mereka sendiri yang berbicara tentang kebengisannya itu. Pendeta Edward Willy, salah seorang pendeta Santa Dennis yang bekerja sebagai pendeta pribadi Lousi VII yang menyertai raja itu dalam ekspedisi Salib kedua, menulis tentang sebagian kesaksiannya. Inila cuplikan tulisannya:

Ketika tentara Salib berusaha menempuh jalan darat melalui Asia kecil menuju Baitul Maqdis, mereka menderita kekalahan besar di tangan Turki di jalan lintas Frigia (daerah pegunungan) pada tahun 1148 dan akhirnya dengan susah-payah mereka sampai di kota Italia, di daerah pantai. Di sini semua orang yang mampu harus memenuhi tuntutan-tuntutan besar yang di terapkan kepada mereka oleh pedagang-pedagang Yunani dan Abhar hingga Anthakia. Di belakang mereka meninggalkan orang-orang sakit, luka-luka dan para peziarah di bawah belas kasihan para penghianat dari sekutu-sekutu mereka, orang-orang Yunani. Orang-orang Yunani itu memungut 500 Mark dari Louis sebagai syarat untuk membantu para peziarah dengan kekuatan pengawal. Mereka juga mengatakan akan menjaga orang-orang sakit hingga sehat kembali sampai bisa di antar pergi bergabung dengan teman- temannya. Tetapi, begitu pasukan Salib meninggalkan tempat itu, orang-orang Yunani itu memberitahu kepada Turki tentang tempat istirahat para peziarah yang tak bersenjata itu. Orang-orang Yunani sendiri hanya diam yang mengawasi segala yang menimpa orang-orang sengsara itu yang ditimpah kelaparan, penyakit dan panah-panah musuh sehingga menimbulkan becana dan kehancuran mereka. Sebuah kelompok yang terdiri dari 3000-4000 orang berusaha melarikan diri karena putus asa. Namun orang-orang Turki yang telah mencapai markas tempat peristirahatan mereka menyerang, mengepung dan mencerai-beraikannya hingga tercapailah kemenangan di pihak Turki. Orang-orang yang selamat dari bencana itu nyaris mencapai puncak keputusasaan andaikata kesengsaraan mereka tidak meluluhkan hati kaum muslimin. Melihat penderitaan mereka, kaum muslimin dengan rasa belas-kasih segera merawat mereka yang tengah sakit dan kelaparan. Kaum muslimin mencurahkan pemberian kepada mereka dengan penuh kedermawaan, bahkan sebagian dari mereka (kaum muslimin) sampai membeli mata uang Perancis yang dirampas orang-orang Yunani dari para peziarah. Uangitu kemudian mereka dermakan kepada orang-orang yang tidak mampu. Hal ini berbeda sekali dengan perlakuan yang diterima mereka ( para peziarah) dari saudara-saudara mereka seagama begitu bengisnya terhadap mereka. Mereka di suruh melakukan kerja paksa dan harta mereka yang sedikit itupun dirampas. Melihat sikap welas-asih kaum muslimin maka banyak di antara mereka yang memeluk agama Islam (agama para penyelamat mereka). Mereka memeluk Islam baru nya itu dengan suka rela, sebagaimana yang di katakan sejarawan klasik: Mereka berpaling dari saudara- saudaranya yang sangat kejam dan mereka memperoleh keamanan di tengah-tengah kaum kafir (yakni kaum muslimin) yang sangat mengasihi mereka . Telah sampai kepada kami berita yang mengabarkan bahwa lebih dari 3000 orang (setelah mereka mundur) bergabung dengan barisan Turki. Betapa menyedihkan! ini kasih sayang yang lebih kejam dari penghianatan. Mereka diberi roti tetapi aqidahnya dirampok. Walaupun yang dipaksa meninggalkan agamanya namun pelayanan-pelayanan yang diberikan kepada mereka sudah cukup untuk memblotkan hatinya.

Inilah akhlak orang-orang Barat kolonial kedua dalam perang dunia dan inilah pula bekas-bekas kekejaman mereka di dalamnya. Hal ini merupakan fakta nyata akhlak mereka di Timur Arab dan Islam, yang berbicara sejauh mana kekejaman yang menjadi sifat hati mereka dalam peperangan dan pemerintahan mereka. Dari pemaparan di atas kita bisa melihat sejauh mana kemunafikan yang di capai mereka ketika memproklamasikan kemanusiaan dan kasih-sayang dalam forum-forum internasional padahal dalampeperangan, di daerah jajahan dan negeri-negeri yang ditaklukkannya mereka malah menampakkan kebuasan dan keganasan.

Jika sebagian orang megemukakan alasan mengenai kekejian orang-orang Barat pada abad-abad pertengahan dengan berdalih karena pada waktu itu mereka belum terdidik oleh peradaban, lantas mengapa setelah mereka belum menjadi pemilik peradaban dan menjadi guru-guru dunia dalam ilmu, seni dan penemuan masih tetap begitu? Menurut kami masalah ini adalah masalah watak asli yang mengalahkan segala kepura-puraan. Orang-orang Barat tetap membawa karakter khas mereka ketika masih menjadi suku-suku liar penyembah berhala. Karakter ini di abad-abad pertengahan bersembunyi di balik agama yang di jadikan kedok kebuasan mereka, dan sekarang ia bersembunyi di balik peradaban. Ia menjadikan kedamaian dan pendidikan sebagai kedok kebingasanya. Begitulah mereka di sepanjang masa. Mereka adalah penyebar kerusakan, penumpah darah, budak kekerasan dan hewan-hewan liar kefanatikan. Maka, bagaimana bisa terbukti pembicaraan mereka tentang kebingasan kita dalam penaklukkan- penaklukkan dan kasih-sayang mereka dalam penjajahan.

0 comments:

Post a Comment